PENGUMUMAN

INFORMASI KEARSIPAN

JULIARDI NURFIKRI

Autentikasi Arsip Elektronik

Redaksi | Senin, 18 Desember 2017 - 08:30:22 WIB | dibaca: 317 pembaca

Konspirasi alam semesta kembali mempertemukan Juang Astrajingga dengan Ana Tidae di satu kesempatan. Juang yang tak percaya pada cinta pandangan pertama, harus menelan ludahnya sendiri karena Ana berhasil mencuri hatinya dalam perjumpaan yang sekejap mata. Juang dengan Ana. Seperti kisah sinetron, Juang yang juga berprofesi sebagai wartawan lepas, mendapat tugas mewawancarai anak dari almarhum sinden Shinta Aksara. Siapa lagi kalau bukan Ana Tidae. Kisah mereka berlanjut. Dari mengobrol lewat pesan di dunia maya, hingga naik bianglala berdua.

Juang, yang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama amatlah sadar bahwa ia sedang menjadi orang ketiga dalam hubungan Ana dan Deri Ismail. Namun bagi Juang, seorang lelaki harus berpijak. Kau laki-laki! Berpijaklah! Maka ia butuh kepastian, keputusan Ana— memilih Juang atau Deri. Seminggu berselang tanpa berbagi kabar— sejak Juang meminta keputusan Ana, malam itu hujan menuntun Ana menuju Juang.

Juang akhirnya sadar, ia tak bisa terus seperti itu. Ana harus menentukan pilihan. Tegas pada hidupnya sendiri. Saat itu, Ana memang sedang tak berhubungan baik dengan Deri. Lelaki yang telah bersamanya setahun ini tertangkap mata bermesraan dengan Camar, sahabatnya. Hingga akhirnya, ditengah hujan Ana menentukan pilihan. Di ketuknya pintu kos Juang dalam kondisi tubuh yang basah. Mengatakan bahwa hujan membawanya kesana, memilih Juang untuk menjadi semestanya.

Tugas Juang sebagai wartawan membuatnya harus berpisah dengan Ana. Tanah papua menunggu untuk di telusuri jejak sejarahnya. Berbulan-bulan Ana tak mendapat kabar. Karena keterbatasan jaringan di tempat Juang bertugas. Juang dan dua temannya, memiliki sahabat bahkan keluarga baru di sana. Papua dengan segala stereotip negatifnya, mampu ia selami dan menepis pandangan setiap orang terhadap tanah timur Indonesia itu.

Juang yang telah lama tak kembali ke rumah karena pertengkaran dengan Ayahnya, di kejutkan dengan kabar ibunda tercinta di rawat di rumah sakit. Hingga sang Ibu pergi dan Juang kehilangan sumber cahaya hidupnya. Memaki diri sendiri yang belum sempat mengabdi. Ana yang paham dengan keadaan Juang, tak tega jika harus mengatakan bahwa ia pun harus melakukan operasi karena tumor yang tumbuh di kepala bagian belakang.

Belum sempat Juang mengetahui keadaan Ana, ia terlebih dulu kecewa pada Ana yang ia temukan berada dalam pelukan Deri yang saat itu, memang masih mengharapkan Ana kembali. Juang melarikan diri ke Nias, lagi-lagi karena tugasnya. Namun kali ini, ia memang ingin melarikan diri dari Ana. Cemburu membuat ego Juang tak terkendali.

Satu pesan dari Ayah Ana, membuat Juang bergegas meninggalkan Nias. Kemudian mengutuki diri mengapa egonya begitu tinggi. Juang pulang, dengan keadaan Ana yang tengah berbaring di rumah sakit. Juang berusaha meyakinkan Ana, bahwa tak ada harga yang pantas untuk sebuah nyawa. Maka berapapun pembiayaan operasinya, itu bukanlah masalah. Juang meyakinkan Ana bahwa ia cukup kuat untuk berbagi penderitaan.

Ana dengan perjuangan dan rasa optiminsya, mampu kembali menjadi gadis periang dan tangguh. Tumor kecilnya telah lenyap. Juang dan Ana menikah. Hidup sederhana di sebuah rumah di perkebunan teh. Berjanji untuk saling menemani hingga hari tua, hingga maut menjemput.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)