PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Robiatul Hadawiah, SS

GADGET VS ANAK

Redaksi | Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:30:14 WIB | dibaca: 541 pembaca

Perkembangan teknologi memunculkan berbagai perangkat canggih berbasis komputer, baik yang memberikan kemudahan dan kenyamanan pengguna, maupun perangkat canggih yang sekedar memeberi hiburan baik untuk orang dewaasa maupun anak-anak. Berbagai macam aplikasi game tumbuh subur di Indonesia. Cukup dengan menggunakan smartphone yang bisa dibeli dengan harga terjangkau serta pulsa internet yang bisa disesuaikan harganya dengan isi dompet, siapapun sudah bisa berselancar di dunia maya. Saat ini, sudah tidak aneh bila melihat anak kecil mahir menggunakan smartphone. Bahkan usia balita pun dengan atau tanpa bantuan orang tua banyak yang sudah bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan smartphone ditangan.

Situasi seperti ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi, orang tua menilai dengan memilihkan aplikasi yang sesuai usia dan  memiliki nilai edukasi sangatlah bagus untuk anak.  Selain itu, anak rewel pun ketika diputarkan lagu-lagu ataupun konten anak lainnya bisa menjadi tenang kembali. Kondisi seperti ini membantu para orang tua lebih santai ketika merawat si buah hati dan tidak mudah menjadi stres. Sementara di sisi lain, memberikan gadget kepada anak sama saja dengan merusak masa depan mereka. Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadgetnya akan menjadi pemalas, syaraf motorik tidak dapat bergerak bebas, fungsi otak tidak berjalan normal sehingga dapat menurunkan kecerdasan anak, tubuh anak yang tidak terbiasa banyak bergerak atau bermain di luar rumah akan menjadi lemah atau tidak sehat. Secara psikologis pun anak terkesan individualis, terkesan penyendiri dan tidak mau bersosialisasi.

Anak-anak seharusnya tumbuh dan berkembang di alam bebas, bermain di taman dengan teman sebaya. Namun mengingat di jaman sekarang terutama di daerah perkotaan sudah jarang sekali ditemukan taman bermain ditambah kekhawatiran orang tua melepas anaknya bermain di luar rumah karena maraknya kejahatan yang dialami oleh anak-anak yang dilakukan orang dewasa. Di kota-kota besar dimana orang tua keduanya adalah pekerja di luar rumah, dari pagi hingga petang, biasanya menitipkan anak kepada asisten rumah tangga dan  tentunya mengakibatkan sedikitnya pengawasan terhadap sebuah gadget yang dimainkan anak.

Pengawasan yang kurang bisa membuat seorang anak menjadi ‘penasaran’ dengan kemajuan teknologi yang disediakan Cuma-Cuma oleh orang tuanya. Mulai dari tontonan yang tidak sesuai usia, tontonan atau permainan yang mengandung unsur kejahatan atau kekerasan, semuanya bisa dinikmati tanpa pengawasan dari orang tua yang sibuk bekerja. Hal tersebut tentunya akan berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental anak. Untuk itu, interaksi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak adalah dua faktor penting yang harus diutamakan dalam keseharian. Sesibuk apapun, orang tua berkewajiban mendidik serta merawat anaknya dengan baik demi masa depan anak yang cerah.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)