PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Putri Dwi Santana

Literasi : TAUSIYAH CINTA

Redaksi | Kamis, 30 November 2017 - 11:39:09 WIB | dibaca: 19 pembaca

Jodoh? Membicarakannya selalu mengundang diskusi yang tak berujung, menuai berbagai opini yang tak jarang menghadirkan gelak tawa. Namun, tak jarang juga mengguratkan kesedihan bagi mereka yang belum menemukan Maura cintanya. Ke mana cinta harus berlabuh? Masihkah jauh perjalanan yang harus ditempuh?

Mahabbah atau cinta adalah topic pembicaraan menarik yang selalu hadir ditengah-tengah manusia. Tak pernah using untuk dibahas, tak pernah berakhir hingga ujung zaman.

Ibnul Qayyim Al-Jauziy meriwayatkan beberapa ungkapan tentang cinta. ‘Al-‘Abbas bin Al-Ahnaf berkata, “setiap manusia pasti memiliki cinta. Taka da kebaikan bagi orang yang tidak memiliki cinta.”

Abu Naufal pernah ditanya,”Apakah seseorang bisa menghindar dari cinta?” Dia menjawaab, “Bisa, asalkan dia seseorang berhati keras dan kurang ajar, yang tidak memiliki keutamaan dan kepintaran. Walaupun seseorang hanya memiliki perangai dan akhlak penduduk Hijaz dan Irak yang paling rendah sekalipun, tentu dia tidak bisa menghindar dari yang namanya cinta.”

Sebagaimana kita tahu, mahabbah atau cinta adalah fitrah tanpa noda bagi setiapmanusia, dan seharusnya kita berbuat adil terhadapnya. Maksudnya, kita menempatkan cinta sesuai tempatnya, sesuai dengan porsinya. Cinta akan menjadi fitnah apabila kita keliru dalam mengartikannya.

A.  Jenis cinta

Ibnu Qayyim Al-Jauziy menyebutkan bahwa ada beberapa jenis cinta yang harus dibedakan agar tidak timbul persepsi yang salah.

 

  • 1.      Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
  • 2.      Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa yang dicintai Allah)
  • 3.      Al-Hubbu fillah wa lillah (Cinta karena Allah dan di jalan Allah)
  • 4.      Al-Mahabbah ma’allah (cinta yang mendua kepada Allah)
  • 5.      Al-Mahabbah ath-thabi’iyyah(rasa cinta yang manusiawi)

 

B.  Kepada siapa kita melabuhkan cinta 

Cinta dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata ‘hubb’ yang artinya sesuatu yang terdalam. Kalau kita memberikan sesuatu yang terdalam dan berharga kepada orang yang tepat dan patut mendapatkannya. Pasti kita akan bahagia. Sebaliknya, kalau kita memberikannya pada orang yang tidak pantas, itu akan menjadi sebab hidup kita sengsara atau menderita. Ibnul Qayyim Al-Jauzy dalam kitabnya, Al-Jawabul Kafi, mengemukankan beberapa alasan untuk mencintai Allah.

1.   Secara fitrah, hati cenderung mencintai dia yang berjasa kepadanya. Maka dari itu kita wajib mendahulukan Allah. Karena semua nikmat yang kita miliki sekarang berasal dari Allah.

2.      Cinta akan timbul jika ada dua motivasi, yaitu kemuliaan dan keindahan pada objek yang dicintai. Allah lebih layak dicintai, karena Allah memiliki sifat yang mulia.

3.      Setiap orang yang berinteraksi dengan kita menginginkan imbalan atau keuntungan. Lain dengan Allah yang justru menginginkan agar kita beruntung dengan keuntungan yang besar.

4.      Semua kebutuhan dan kepentingan kita, bahkan semua kebutuhan makhluk, ditanggung oleh Allah, karena Dia-lah Yang Maha Mulia dan Dermawan. Allah memberi sebelum diminta, dengan pemberian yang tidak pernah dibayangkan.

C.  Tujuan cinta

Cinta bukanlah kata yang murah untuk dituturkan, tapi merupakan anugerah Allah yang indah dan suci jika kita dapat menilai kesuciannya.

Sejak zaman Rabi’ah Al-Adawiyah hingga zaman modern sekarang, tidak banyak orang yang tertarik dengan pencarian kebahagiaan dan kebenaran hakiki. Apalagi saat kondisi social begitu terpuruk, terutama di Negara-negara Barat. Kemajuan material yang pesat ternyata mengorbankan sisi spiritual manusia. Kemudahan dalam hidup yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi membuat banyak orang mengabaikan ruang ruhani dalam dirinya.

Tujuan mahabbah yang tertinggi sebenarnya untuk mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta kepada Allah SWT. Dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, kita mendapatkan kepuasan batin yang luar biasa, di samping akan mengantarkan kita kepada ridha dan ampunan-Nya. Insya Allah kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat akan kita dapatkan.

D.  Kiat mempersiapkan diri

Sabar dan tawakal bukan berarti kita hanya berdiam diri menunggu sang jodoh hadir. Ada pepatah mengatakan bahwa jodoh itu di tangan Allah. Ya, tapi kalau kita hanya berdiam diri, selamanya jodoh akan ada dalam genggaman-Nya. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri menjemput sang jodoh. Apa saja?

1.      Terus perbaiki diri

2.      Perkaya diri dengan ilmu

3.      Sampaikan jika sudah siap

 

E.   Ta’aruf

Ta’aruf bisa diartikan sebagai sebuah fase yang dilalui oleh laki-laki dan perempuan yang sudah mempersiapkan diri untuk melangkah menuju jenjang pernikahan. Ini adalah sebuah ikhtiar untuk mengetahui calon pasangan kita.

Dalam ta’aruf kita diperbolehkan untuk bertanya secara detail mengenai calon pasangan kita. Bagaimana karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan informasi detail yang menjadi rahasia calon pasangan, tapi masih dalam batas syar’i.

Karena ta’aruf ini adalah proses menuju pernikahan maka sebelum melakukan ta’aruf pastikan kita menentukan dulu bagaimana kriteria calon pasangan yang kita inginkan.

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karenahartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dank arena agamanya. Maka, pilihlah yang beragama, agar engkau termasuk orang-orang yang beruntung.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa harus ta’aruf? Karena ta’aruf merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menuju ke sebuah pernikahan yang penuh berkah. Meski terkadang, ada beberapa ikhwan yang langsung melakukan khitbah tanpa melalui ta’aruf. Namun, Rasulullah saw lebih menyarankan kita untuk berta’aruf dulu sebelum menikah. Selain dianjurkan oleh Nabi, ta’aruf juga perlu dilakukan agar kita terhindar dari perasaan tertipu ketika nantinya ada sifat atau mungkin kondisi fisik yang kurang sempurna dari pasangan kita.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)