PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Dasan Sanjaya

PENYESALAN YANG TAK TERBAYAR

Redaksi | Selasa, 10 Oktober 2017 - 11:52:30 WIB | dibaca: 286 pembaca

Ketika aku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu. Begitu banyak lumuran dosa yang menghadang, sehingga hamba tidak gentar melawan problema kehidupan yang luas, bahkan dunia dekat hamba pun hanyalah membuat jiwa hamba terpuruk, Ya Allah, mengapa hamba takut mengungkapkan kebenaran, mengungkapkan kenyataan bahwa yang di lakukan kakak hamba itu salah, Ya Allah akankah hamba dapat mengungkapkan semuanya?

Itulah doa yang selalu kuhadirkan seusai melaksanakan panggilan sang pencipta, Ya Allah hatiku terus teriris melihat kejadian yang selalu membayangi hidupku, akan tetapi lidahku terasa kelu, mengapa aku tidak bisa menyadarkan Nur, kakak kandungku sendiri, yang telah nyata melakukan perbuatan yang merugikan. seorang Penjual Tiket Palsu. Apakah itu tidak merugikan orang lain, Kelihatannya asli tapi nyatanya palsu. Kakakku membeli tiket palsu dengan harga murah dan menjualnya dengan harga yang begitu tinggi.

Berulang kali kuperingatkan bahwa yang dilakukannya itu bertentangan dengan agama, suatu tindakan menipu, akan tetapi berulang kali juga aku tertegun mendengarkan kemarahan kakakku dan aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. “Ya Allah, haruskah kubiarkan kakakku terjerumus ke dalam lembah hitam” bisikku.

Suatu ketika, kakakku pulang larut malam dengan tubuh yang terhuyung karena meminum alkohol yang terlalu banyak. Segera ku sambut kakakku diiringi perasaan sedih.
“kak, mengapa kakak seperti ini, mabuk-mabukan, ingat kak, usia kakak telah mencapai 28 tahun, apa kebaikan yang kakak lakukan? kak, ada Allah yang selalu mengawasi kita, Allah yang memberikan kehidupan bagi kita agar selalu bersyukur dengan nikmat, sadarlah kak!. Ujarku mengingatkan Kak Nur.

“Hey Ifah, bicara apa kamu, jangan sok alim. Apa hak kamu menceramahiku. Ini hidupku, ini duniaku, jangan kamu bawa-bawa agama. Tidak ada hubungannya denganku! Jawab kakakku.
“Istighfar kak. Mata hati kakak telah buta, sadarlah kak!
“Diam Ifah…!” Teriaknya padaku sambil menarik jilbab yang kukenakan hingga tersibak rambutku.
Aku hanya terpaku diam menghadapi perlakuan kak Nur terhadapku. Setelah itu, kak Nur berlalu meninggalkanku menuju kamarnya.

Begitulah setiap hari kelakuan kakakku, siang menipu orang dengan menjual tiket palsu, malamnya mabuk-mabukkan tidak jelas. Hatiku teriris melihat keadaanya. Tidak mengenal ajaran agama, tidak mengenal arti hidup sesungguhnya! akankah aku dapat menyadarkan kakakku? Entahlah, mungkin sampai ajal menjemputku, aku tidak akan bisa membuatnya kembali dekat kepada Allah. Memang sejak kepergian Ummi dan Abi, Kak Nur berkelakuan tidak baik, walaupun begitu aku tetap menyayanginya.

Malam ini, Hatiku merasa gelisah, sudah lewat tengah malam, Kak Nur belum pulang juga. Setelah shalat Tahajud menghadap Sang Pencipta, mengharap keridaanNya, kuputuskan untuk menyusul kakakku dengan mengunjungi tempat berkumpul kak Nur bersama teman-temannya. Tetapi usahaku sia-sia, dia tidak ada di sana.

Kegelisahanku mulai memuncak, di kegelapan malam, seorang diri aku menyusuri jalan mencari kakakku. “Kak, kakak di mana?” bisikku dalam hati. Pikiranku kalut ketika melihat kakakku di hadang sekumpulan pencuri sambil menarik tas yang dikenakannya. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil kayu balok yang tergeletak di pinggir jalan. Aku berlari dengan cepat hingga aku memukulkan kayu tersebut kepada pencuri itu. Tanpa aku sadari sebuah benda tajam, keras menusuk punggungku. Rupanya itu pisau yang ditusukkan oleh pencuri. Akkh!! Hanyalah rasa sakit yang kurasakan, darahku mengalir dengan cepat, sebelum tubuhku tersungkur ke bumi, samar-samar aku mendengar suara kak Nur.

“Ifah, bangun sayang! Maafkan kakak. Kakak salah, kakak tidak mau mendengarkan nasihat kamu, kakak janji akan bertobat, kakak akan menjadi wanita sholehah, berprilaku baik. tapi kamu bangun ya! Bangun Ifah! Maafkan kakak! air mata mengucur membasahi pipinya.

Namun sayang, ajal telah menjemputku. Untuk terakhir kalinya aku tersenyum, hingga aku menutup mata untuk selamanya.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)