PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Putri Wulandari, S.Pd

Resensi : Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Redaksi | Senin, 11 Desember 2017 - 13:19:55 WIB | dibaca: 2212 pembaca

Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 menceritakan kehidupan seorang gadis bernama Milea Adnan Hussain. Dia adalah putri seorang prajurit AD. Pada tahun 1990 Milea dan keluarganya pindah dari Jakarta ke Bandung karena ayah Milea dipindah tugaskan. Di Bandung Milea melanjutkan sekolahnya di sebuah SMA Negeri. Di mulai dari sekolah inilah Milea bertemu dengan sosok Dilan yang meramalnya di awal pertemuan.

“aku ramal, nanti kita bertemu di kantin” -Dilan- hlm 20

Sejak itu Milea penasaran dengan Dilan. Seiring berjalanya waktu Milea akhirnya tahu bahwa Dilan adalah orang yang seperti apa. Dilan itu siswa yang suka bolos, sering dipanggil guru BP dan anggota geng motor. Tapi perlakuan dan perhatian dari Dilan membuat Milea jatuh hati.

Sebuah trik sederhana tapi membuat senyum-senyum sendiri dipilih Dilan untuk kembali menarik perhatian Milea. Dia mengirim Piyan untuk menyampaikan suratnya yang berisi :

“Milea, ramalanku, kita akan bertemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi aku mau meramal lagi : Besok, kita akan ketemu.” – Dilan – hlm. 22

Tapi, besok yang dimaksud Dilan itu hari minggu. Nggak mungkin, kan mereka bertemu? Ternyata kali ini benar. Dilan datang ke rumah Milea untuk menyampaikan surat undangan yang berisikan :

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada : Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” – Dilan – hlm. 27

Mungkin hampir semua perempaun yang membaca novel ini pasti jatuh cinta pada Dilan. Perhatian yang ditunjukkan oleh Dilan itu yang tidak biasa. Kalau membaca percakapan antara Milea dan Dilan. Memang, lagi-lagi isinya tak penting, lucu pula. Tapi, kelucuan dan keabstrakan Dilan itu yang sesuatu banget. Contohnya waktu Milea sakit, dikirim tukang urut. Waktu ulang tahun, dikasih kado TTS yang udah diisi supaya Milea tidak pusing mengisinya. Lucu, tapi itulah Dilan. Dilan sangat menyayangi Milea dan tidak suka ada orang yang menyakiti Milea. Dilan mengajarkan pada kita untuk selalu menjadi diri sendiri. Dan Milea, mengajarkan bagaimana kita tetap mencintai orang yang kita cintai apa adanya. Milea tetap mencintai Dilan, walaupun orang-orang banyak memberi kesan buruk pada Dilan.

Suasana kota Bandung pun tergambar dengan jelas di Novel ini. Gaya pacaran yang tahun 90an banget diwakilkan oleh sosok Dilan dan Milea. Semua di gambarkan dengan pas, terangkum dalam sebuah novel yang sangat keren. Bahasa yang digunakan sangat sederhana membuat pembaca dapat langsung memahami maksud penulis. Ilustrasi pun digunakan untuk memberi gambaran wajah dari setiap tokoh yang ada dalam novel. Dari awal sampai akhir membaca novel ini tidak membuat bosan. 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)