PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Putri Dwi Santana

Resensi : Homang Makhluk Penyesat Dari Tanah Batak

Redaksi | Senin, 11 Desember 2017 - 13:09:55 WIB | dibaca: 683 pembaca

Buku ini menceritakan tentang sekumpulan anak yang setiap harinya selalu menggembala kerbau setelah pulang sekolah. Nick, Atur,  Edo, Tiurma, dan Sudung. Mereka bersahabat dari kecil setiap harinya mereka selalu belajar dan bermain bersama di ladang. Nick, Atur, Edo, dan Tiurma adalah anak yang rajin dan cerdas, tapi tidak dengan Sudung, Sudung adalah anak yang pemalas dan suka melawan orang tua.

Siang itu cuaca terik, Nick, Atur, Edo, dan Tiurma sedang asyik membaca buku di bawah pohon kemiri. Ditengah percakapan mereka tentang tugas sekolah, Sudung datang dan membicarakan soal Homang. Homang adalah makhluk bertubuh besar, mirip manusia atau kera dengan rambut panjang, gigi tajam, mata merah dan hampir semua tubuhnya dipenuhi bulu-bulu. Biasanya tinggal di pedalaman hutan yang ada di Tapanuli, Sumatera Utara khususnya suku Batak Toba, mereka percaya hewan ini memiliki ilmu yang mampu menyesatkan manusia. Oleh sebab itu makhluk ini cukup ditakuti hingga saat ini. Makhluk ini memiliki persamaan dengan manusia, namun arah telapak kakinya terbalik, sehingga dengan bentuk seperti ini, memudahkan homang untuk menyesatkan manusia. Homang keluar dari sarang sehabis hujan disertai dengan hembusan kabut yang kencang. Korbannya akan diberi makan hopong atau burahol, jenis tanaman langka Indonesia, tumbuhan lumut dan tanaman sikkam (batak). Tanaman sikkam adalah jenis tanaman daun muda dan batang muda yang rasanya asam dan berwarna merah.

Orang tua mereka sudah memperingati agar tidak ada saeorang pun yang  pergi kehutan karena takut mereka akan di culik oleh Homang . Namun dengan rasa penasaran dan paksaan dari Sudung, akhirnya mereka pergi menyusuri hutan untuk mencari tahu keberadaan Homang. Dari awal perjalanan Nick sudah memperingati Sudung supaya dia menjaga sikapnya saat berada di dalam hutan, namun dengan keras kepala Sudung selalu membantah peringatan dari Nick. Hujan tiba-tiba turun dengan deras dan mereka pun berteduh di dalam gua. Cerita panjang pun dilalui mereka selama berada di dalam gua. Sampai akhirnya Sudung di culik oleh Homang. Teman-teman sudah berusaha menyelamatkan Sudung, namun apadaya mereka hanyalah anak-anak yang takut akan gelap. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke rumah dan memberitahu orang tua Sudung bahwa anaknya telah diculik Homang. Orang tua Sudung panik selama tiga hari seluruh warga dikerahkan untuk mencari Sudung namun tak membuahkan hasil, akhirnya ayah Nick mengusulkan untuk memanggil dukun agar Sudung dapat segera ditemukan. Dengan ritual yang panjang dan menegangkan didalam hutan, akhirnya Sudung dapat ditemukan dalam keadaan yang memprihatinkan.

Buku ini sangat cocok untuk dinikmati oleh semua kalangan, baik dari anak-anak sampai orang dewasa. Karena banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini. Khususnya bagi kalangan anak, supaya bisa lebih menghargai orang lain apalagi orang tua sendiri. Ceritanya yang sederhana mampu memberikan pesan moral yang mendalam.

Buku ini juga banyak menggunakan bahasa batak namun tetap disertakan dengan artinya, jadi kita sebagai pembaca akan banyak lebih tahu tentang bahasa batak.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)