PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Maulana Munazat, ST

Resensi : Masyitoh Wanita Pembela Tuhan

Redaksi | Senin, 11 Desember 2017 - 14:13:05 WIB | dibaca: 912 pembaca

Mempertahankan keimanan dan keyakinan kepada Sang Pencipta ibarat memegang bara api. Apalagi bagi seorang wanita. Banyak wanita yang digoda dengan harta dan kedudukan, kemudian menjadi luntur keimanannya.

Tapi berbeda dengan wanita yang diceritakan dalam novel yang berjudul Masyitoh Wanita Pembela Tuhan ini. Wanita itu adalah Masyitoh, seorang tukang sisir putri Fir’aun. Seorang wanita yang kuat dan teguh dalam memegang keyakinannya di tengah keluarga dan masyarakat Raja Fir’aun yang kafir. Karena keteguhannya sampai-sampai ia dicium bau harumnya di malam Isra’ Mi’raj oleh Rasulullah  SAW.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “pada saat malam terjadinya Isra’, saya mencium bau harum. Saya pun bertanya, ya Jibril, bau harum apakah ini?.” Jibril menjawab, “ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyitoh) dan anak-anaknya.”

Buku Novel berjudul Masyitoh Wanita Pembela Tuhan ini memberikan banyak inspirasi dan pelajaran bagi para pembaca. Wanita yang diceritakan di dalamnya adalah sosok yang patut menjadi teladan umat Islam, khususnya bagi kaum muslimah. Demi mempertahankan keimannya, Masyitoh kemudian mengalami nasib tragis, yakni dimasukkan ke dalam kuali besar yang berisi minyak panas beserta tubuh anak-anaknya.

Alkisah, Suatu hari ketika Masyitoh menyisir menyisir rambut putrid Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan mengucap “Bismillah”. Putri Fir’aun berkata: “Hai, dengan nama ayahku?”. Masyitoh berkata: “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, begitu juga Tuhan ayahmu.” Putri Fir’aun bertanya: “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?”. Wanita itu menjawab: “Ya”. “Akan aku laporkan pada ayahku,” kata sang putri. “Silahkan,” jawab Masyitoh tegas.

Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada ayahnya, dan Fir’aun pun kemudian memanggil Masyitoh. Fir’aun bertanya kepadanya: “Wahai Masyitoh, apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku?.” “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab Masyitoh.

Fir’aun tidak langsung menyiksanya, tapi masih memberikan kesempatan kepada Masyitoh untuk insaf dan mengakui kesalahannya. Fir’aun hendak ingin memaafkannya jika wanita tersebut mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhan. Sebaliknya, Fir’aun mengancam akan memberikan siksaan yang kejam dan pedih jika Masyitoh tetap pada pendiriannya.

Masyitoh menolak tawaran Fir’aun dan memilih tetap mempertahan keimanannya. Ia berkata: “lebih baik siksa pedih di dunia ketimbang siksa pedih di akhirat.

Mendengar penolakan tersebut, Putri Fir’aun masih merayu dan membujuk Mayitoh untuk insaf dengan alas an demi keluarga dan anak-anak Masyitoh. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati, penawaran dan rayuan tersebut ditolak oleh Masyitoh.

Mendengar penolakan dan keengganan Masyotoh untuk insyaf, maka kemudian Firaun memerintahkan untuk mempersiapkan kuali besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu. Kemudian satu persatu, anak wanita tukang sisir itu dilemparkan ke dalam kuali yang mendidih.

Beberapa saat kemudian, Masyitoh meminta satu permohonan kepada Fir’aun agar tulang-tulangnya dan tulang-tulang anaknya dikumpulkan dalam satu kain untuk kemudian dikuburkan. Fir’aun menerima permintaan tersebut. Lalu satu demi satu anak Masyitoh dilemparkan ke dalam kuali mendidih, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Wanita tersebut tampak ragu-ragu. Si bayi di atas gendongan Masyitoh, atas izin Allah kemudian berbicara, “terjunlah Ibu!, ayo terjunlah, adzab di dunia lebih ringan dari pada adzab di akhirat.”. Mendengar anaknya berbicara, Masyitoh langsung terjun ke dalam kuali tersebut bersama bayinya.

Itulah cerita singkat tentang keteguhan seorang wanita penghuni surga dalam mempertahankan keyakinannya kepada Sang Khaliq. Kisah ini menyadarkan kepada kita bahwa ketaatan dalam mempertahankan tauhid selalu dipenuhi dengan duri. Maka benar apa yang dikatakan Umar bin Khattab ketika mendefinisikan takwa, bahwa takwa adalah seperti orang yang berjalan di atas jalanan yang penuh duri.

Setidaknya ada dua pelajaran yang bias diambil dari novel yang ditulis oleh Muhammad El Natsir ini. Pertama, bahwa dalam bertauhid (mengesahkan Allah) tidak akan pernah lepas dari cobaan dan ancaman. Jika boleh dikata, ancaman dan rintangan dan keyakinan tersebut ibarat dua sisi mata uang yang selalu berjalan berdampingan. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula godaan dan ancamannya.

Kedua, Setiap kebaikan yang kita lakukan, termasuk mempertahankan ketaatan kepada Allah pasti akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena keteguhan hatinya, Masyitoh dalam cerita buku ini mendapatkan jaminan masuk surga.

Pada intinya, novel setebal 266 halaman ini mengingatkan kita betapa berharharganya nilai keimanan. Bahkan, nilai keimanan tersebut tidak bias diukur dengan nyawa seseorang di dunia seperti yang dikisahkan dalam novel ini. Dengan demikian, buku novel ini sangat layak untuk menjadi bahan bacaan umat Islam sebagai penggugah semangat untuk terus berjuang mempertahankan keimanan kepada Allah SWT.











Komentar Via Website : 1
bahaya telinga berair dan cara mengatasinya
10 Oktober 2018 - 10:52:13 WIB
terimakasih infonya sangat bermanfaat
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)