PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Dini Yahdiyani, S.Pd

Resensi : Tuhan yang Kesepian

Redaksi | Senin, 11 Desember 2017 - 13:04:57 WIB | dibaca: 842 pembaca

 

Judul                           : Tuhan yang Kesepian

Penulis                         : Tasirun Sulaiman

Penerbit                       : Bunyan

Halaman                      : xvi + 204 Halaman 

Kita semua menyadari bahwa kehidupan kita sudah ada yang mengatur. Hidup tidak berjalan semaunya dan asal saja, karena semua yang diberikan dalam hidup adalah sebuah rencana hidup yang memang ditujukan untuk kita dan harus kita yakini bahwa itu adalah kebaikan untuk hidup kita.

Manusia sebagai makhluk Tuhan paling sempurna terkadang menjadi kurang bersyukur dengan melalaikan kebaikan-kebaikan yang Tuhan anugerahkan dalam hidup. Merekapun seringkali melupakan Tuhan di saat kondisi mereka berkecukupan. Jika Tuhan sudah dilalaikan, Tuhan pun kesepian. Tuhan menjadi terasing di tengah keramaian. Bukankah kita sebagai makhluk-Nya seharusnya ‘menemani-Nya’ setiap saat agar Dia tidak kesepian?

Bagi beberapa kalangan, ihwal agama dan Tuhan adalah tabu: sesuatu yang jauh dari perdebatan dan diskusi tentang-Nya. Konsep ketuhanan bagai virus yang membuat alergi dari pertanyaan tentang Tuhan dan agama.

Bertuhan atau tidak memang hak prerogatif manusia. Seandainya semua manusia di seluruh muka bumi ini ateis sekalipun, Tuhan tidak merasa dirugikan. Tapi persoalannya, untuk apa Tuhan menciptakan manusia jika tidak ada yang menyembah-Nya?

“Iman itu tidak sekali titik dan jadi. Iman membutuhkan penyelamatan setiap saatnya”

Kutipan kalimat yang terdapat dalam buku ini menjelaskan bahwa memang seperti itulah keimanan seseorang. Butuh perjuangan panjang untuk menjadikan keimanan itu istiqomah dalam dada nya. Diakui atau tidak, manusia modern saat ini cenderung suka berpikir hal-hal yang praktis, instan, dan easy going. Mereka tenggelam dalam keegoisan diri mereka untuk mengejar keduniawian dan berlomba sebagai manusia modern. Mereka tak ingin berpikir kreatif bagaimana caranya saya dapat ‘menemukan’ Tuhan dan membahagiakan-Nya, tapi justru yang dipikirnya adalah sebaliknya, “yang penting saya ada, titik! Soal siapa atau apa yang membuat saya ada itu tidak penting!”. Paradigma semacam ini tentu dapat merusak hubungan vertikal antara Tuhan dengan manusia.

Lewat buku bertajuk Tuhan yang kesepian ini, Tasirun Sulaiman menggiring pembacanya untuk merenungi setiap jengkal cara berpikir manusia yang seringkali salah-kaprah dan berimbas pada ‘kebodohan’ sikap manusia. Ada banyak tulisan inspiratif sarat makna dalam buku ini yang mampu menggetarkan kalbu.

Buku ini terinspirasi oleh banyak ide dan pemikiran yang sering terjadi dalam kenyataan-kenyataan hidup yang kita alami dan jalani. Buku ini juga dikemas dalam format pendek dan padat. Sehingga akan lebih menggugah dan membedayakan para pembaca.

Buku ini terbagi menjadi lima bagian; Agama dan Cinta Kasih Tuhan, Agama dan Kemanusiaan Universal, Agama dan Kehidupan Politik, Agama dan Kesucian Jiwa, Agama dan Kemasyarakatan;  yang kesemuanya masih dalam satu tubuh: ditarik dari perspektif agama. Dengan sisipan peritiwa sejarah yang mendukung opininya, sang penulis mencoba menghembuskan angin kesejukan dari pohon yang rindang bernama agama. Mengoreksi beberapa kesalahan dalam menafsir ayat-ayat-Nya: sebuah fenomena yang kian sering menggejala dalam keseharian kita.

Namun terdapat beberapa catatan seperti sumber sumber rujukan sejarah yang tanpa keterangan cukup. Sebab beberapa catatan yang dibeberkan memiliki sebagian perbedaan dengan sumber rujukan lain pada unsur pendukung cerita. Terlebih di bagian akhir buku tidak terdapat halaman daftar pustaka yang sebenarnya dapat menjadi perluasan dari wacana dalam buku ini. Mungkin di satu sisi, ini menunjukan kedalaman dan kefasihan sang pengarang pada apa yang ditulisnya.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)