PENGUMUMAN

KOLOM LITERASI

Kahfi Ananda Giatama, S.Sos

RESENSI BUKU : PAK TUA YANG MEMBACA KISAH CINTA

Redaksi | Senin, 25 September 2017 - 08:57:49 WIB | dibaca: 674 pembaca

Penulis: Luis Sepulveda

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: 2017

Halaman: x, 133 halaman

Membayangkan suatu lanskap dunia yang masih asing jelaslah sulit, begitupun jika kita disuruh untuk membayangkan sebuah wilayah bernama Amerika Latin. Tidak ada observasi dan imajinasi membuat kemungkinan ini semakin sulit. Di kanal berita online pun tidak sering menampilkan citra Amerika Serikat kepada penduduk Indonesia, rakyat Indonesia lebih akrab mendengar nama Amerika Serikat dan Arab Saudi. Atau Tiongkok.

Samar-samar dan abu-abu adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan definisi Amerika Latin oleh sebagian masyarakat Indonesia, hal ini berimbas pada tidak menariknya pustaka-pustaka Amerika Latin dihadapan pembaca Indonesia. Pengetahuan tentang Amerika Latin dimata seorang Indonesia hanya berkutat soal kegiatan politik dan perang saudara, paling maksimal tidak jauh-jauh dari Che Guevara atau Fidel Castro yang tampangnya familiar di kaos anak-anak sekolah dasar.

Faktanya, Amerika Latin masih berkutat soal politik dan bukan soal sastra. Amerika Latin masih menjadi wilayah yang keras dan beringas, penuh mayat dan pertumpahan darah ketimbang menjadi surga bagi masyarakat adat di pegunungan, keindahan flora dan fauna khas daerah tropis dan kearifan budaya lokal yang masih sarat dengan estetika. Amerika Latin tidaklah setara dengan Timur Tengah yang penuh dengan konflik, meskipun kerapkali terdapat kudeta dan perang namun Amerika Latin tetap menyimpan berbagai keindahan yang tersembunyi.

Alasan itulah yang melatari mengapa sastra Amerika Latin sangatlah penting untuk dikaji, sastra Latin dengan bantuan majas dan pengandaian yang nyaman dipandang mata mampu membangkitkan keindahan-keindahan tentang Amerika Latin. Mulai dari wilayah, penduduk hingga kekayaan alamnya.

Tak cuma bicara soal keindahan, sastra Latin juga tanggap akan permasalahan sekitar. Lagi-lagi melalui keindahannya, mereka membuai dan membawa pembaca untuk larut terhadap masalah-masalah yang sedang mencuat di tengah masyarakat. Sastra Latin sarat akan kritik sosial, pendapat soal kebijakan politis maupun ekologis, melek akan ketimpangan akumulasi kapital.

Elaborasi tersebutlah yang semakin memperkuat kedudukan sastra Latin di benak para pembaca, gaya bicara yang membuat mata terbelalak dicampur dengan kritik sarkas yang tak jarang menohok sampai ubun-ubun. Sastra Latin menjadi satu-satunya martir bagi siapapun yang ingin mengenal Amerika Latin melalui cara yang normal dan mudah dicerna.

Novel ini pun punya dua keunggulan yang dijabarkan sebelumnya, novel ini sarat akan kritik-kritik yang berasal dari pendapat penulis ditambah oleh rangkaian kata yang puitis lagi melankolis. Novel ini berbicara tak hanya soal kesendirian, melainkan juga kebebasan dan kedamaian yang kini sudah sulit didapat – jika tidak ingin dikatakan dirampas – oleh segala bentuk modernitas.

Menggunakan latarbelakang tempat yang diperkirakan ada di tengah rimba hutan tropis Ekuador, berkisar pertengahan abad ke-19 dimana masih terdapat hutan yang menjadi lokasi mata pencaharian masyarakat sekitar. Singkat cerita, dua spektrum permasalahan yang menjadi pokok pembicaraan adalah soal tradisionalis dan ekologis. Dua aspek tersebut yang diangkat untuk mengungkap borok globalisasi dan segala dampak buruknya.

Sisi ekologis terpancar pada hamparan hutan yang masih asri, udara sejuk nan menyenangkan yang terpaksa harus hilang akibat keserakahan manusia. Segelintir manusia dengan otak yang dipenuhi simbol uang datang merusak ekosistem hutan, mereka secara serampangan merusak pohon-pohon yang sudah berdiri selama ribuan tahun. Mereka rela merusak kenyamanan bersama hanya demi segelintir uang.

Akibat kepentingan ekonomi yang lebih diutamakan ketimbang kepentingan ekologi, walhasil yang terjadi adalah kiamat kecil. Hutan kian lama semakin gundul akibat pohon giat sekali ditebang, longsor semakin sering terjadi, dan binatang yang hidup dihutan terpaksa harus mengungsi ke tempat lain dan tak jarang mengusik ternak warga akibat tidak ada bahan pangan lagi di hutan. Singkatnya, akibat salah urus berakibat rantai makanan semakin amburadul.

Maraknya proyek-proyek yang tidak memperhatikan alam diakibatkan teknologi dan arus globalisasi yang semakin nyata bentuknya, satu yang ada dipikiran mereka hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak mungkin. Peduli setan tentang cara dan dampaknya. Arus globalisasi yang tak ramah lingkungan juga memiliki andil besar dalam pengrusakan alam.

Novel ini mengajak pembaca untuk kembali kepada hal-hal yang tradisional, tentu tidak sepenuhnya menolak bentuk modernisasi dan segala kemajuan. Hanya perlu membandingkan pilihan mana-mana saja yang sejatinya bermanfaat bukan bagi diri sendiri, melainkan pilihan yang tidak merusak alam dan tidak mengusik flora dan fauna yang hidup di dalamnya.

Toh bukan tidak mungkin kemajuan yang dilandasi oleh pilihan yang memperhatikan alam dan segala makhluk hidup disekitarnya akan menghasilkan pembangunan yang berfaedah bagi semuanya. Tidak ada lagi musibah yang seharusnya dapat dicegah. Dan hidup pun akan semakin seimbang dan selaras, harmonis karena semuanya mampu hidup tanpa saling mengusik satu sama lain.

Terciptanya suatu kebebasan untuk melakukan apapun, namun dengan traktat lisan yang didasarkan atas kesadaran dalam mengambil setiap keputusan adalah pesan moral yang paling berkesan dari buku ringkas ini. Mengajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama makhluk hidup untuk berkenan menjaga semua yang terkandung dalam planet ini.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)